M. FIKRI AL HAFIDH - ANAK DESA YANG MENJADI KETUA DELEGASI INDONESIA DI FORUM PEMUDA ASEAN

Kedang Murung merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kota Bangun Kabupaten Kutai Kartangara Kalimantan Timur. Dari tempat ini, lahir seorang anak bernama Muhammad Fikri Al Hafidh dari pasangan  Nurul Arlian dan Juraidi tepat tanggal 21 Maret 1998 lalu.

“Di desa ini tempat dimana saya tumbuh sebelum saya memutuskan untuk merantau demi mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Keputusan yang membuat saya mendapatkan banyak kesempatan untuk melihat dunia lebih luas lagi,” cerita Fikri.

Banyak proses yang dilalui pemuda yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmul Samarinda ini, bahkan yang datang secara mendadak yang tak pernah disangka namun menambah pengetahuan  baginya.

“Salah satunya keikutsertaan saya dalam ASEAN Youth Forum (AYF) bulan Agustus lalu yang merupakan kegiatan tahunan yang dinaungi oleh ASEAN Secretariat dan menjadi tanggung jawab kementerian kepemudaan di anggoata ASEAN secara bergantian, yang pada tahun ini Kementerian Belia dan Sukan Brunei Darussalam dipercaya menjadi tuan rumah,” lanjutnya.

Perjalanan pada AYF lanjutnya, dimulai ketika salah satu staff Kemenpora menawarkan dirinya ikut serta dalam program ini.

“Tanpa ragu, saya menyanggupi untuk berpartisipasi dengan harapan ada banyak hal, cerita, serta pengalaman yang akan saya dapatkan. Benar saja, diskusi yang diadakan dalam kegiatan ini memberiku kesempatan untuk menceritakan bagaimana pandangan dan pengalaman saya tentang daerah asal saya,” ujar Fikri bercerita dengan semangat.

Di kegiatan ini, implementasi pada tiga topik utama yakni Education, Digital Economy, and Youth Development, yang ternyata di daerahnya tumbuh masih jauh dari kata ideal. Hasil paparan dari para ahli yang menjadi pemateri pada AYF dan pengalaman dari peserta lainnya di kota yang lebih besar menumbuhkan rasa keinginan yang tinggi untuk  membangun daerah asalnya.

“Jujur saja, awalnya, saya merasa malu dan sangat gugup sekali, ada banyak kekurangan terutama pada gawai yang saya gunakan mengingat kegiatan ini dilakukan secara daring. Aplikasi zoom dan aplikasi lainnya yang digunakan selama program pun sering menyendat. Tidak hanya itu, berkumpul dengan 5 pemuda hebat perwakilan Indonesia lainnya pun membuat saya merasa kurang percaya diri dalam menyampaikan opini,”jelasnya.

Namun dengan keyakinan diri serta menepis semua kegugupan dan rasa malunya, anak desa ini akhirnya justru terpilih menjadi ketua delegasi Indonesia.

“Banyak hal berkesan yang saya dapatkan di AYF. Salah satunya adalah banyaknya kesempatan untuk memperkenalkan budaya suku saya yaitu suku Kutai di kancah Internasional. Melalui Zine (Majalah ASEAN,red) yang dibuat oleh seluruh delegasi, saya memperkenalkan makanan asli daerah saya yaitu tiga sayur gangan yakni Gangan Bening, Gangan Asam, dan Gangan Nangka,” katanya dengan mata berbinar-binar.

Dengan bangga dirinya juga memperkenalkan pakaian tradisional Kalimantan Timur yang digunakannya ketika menampilkan keahlian bermain yoyo pada sesi pertunjukan dengan memadukan  kultur musik tradisional Kutai Kartanegara dengan bermain yoyo.

Setelah hampir satu bulan melaksanakan kegiatan ASEAN Youth Forum ini, tibalah Fikri dalam puncak kegiatan dimana para pembesar dan pemimpin Negara di ASEAN datang untuk berdialog dengan para delegasi.

“Kesempatan ini kami gunbakan untuk mengajukan banyak pertanyaan luar biasa yang kami sampaikan dan dijawab dengan paparan yang sungguh membuka pengetahuan kami oleh para pemimpin Negara ASEAN tersebut. Pada akhirnya, sampailah kami para delegasi pada suatu kesepakatan dengan para pembesar negara ASEAN dengan meluncurkan ASEAN Youth Statements yang sudah diamandemen bersama,” ujarnya.

Dengan pengalaman ini lah, Fikri  berharap ilmu yang didapat bisa berguna bagi masyarakat dan kepemudaan, terutama pada desa terpencil tempatnya lahir dan bertumbuh. (rdi/ppiddisporakaltim)